PREFERENSI PETANI TERHADAP VARIETAS TEBU (Studi Kasus di PT. Perkebunan Nusantara X)

Ahmad Zainuddin, Rudi Wibowo
| Abstract views: 52 | PDF views: 52 | PDF views: 16

Abstract

Permasalahan dari segi perbibitan yang menyebabkan rendahnya efisiensi industri gula nasional adalah tidak seimbangnya komposisi varietas-varietas tebu yang ditanam yaitu antara varietas masak awal, masak tengah dan masak akhir sehingga rendemen tidak optimal. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis preferensi petani terhadap atribut bibit/varietas tebu. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja PTPN X. Sampel diambil secara purposive dengan memilih 45 orang responden petani tebu. Preferensi petani dianalisi dengan menggunakan pendekatan multiatribut Fishbein. Hasil Penelitian menunjukkan terdapat 10 atribut yang dianggap paling penting bagi petani dalam menentukan pemilihan varietas bibit tebu. Selain itu, sikap responden petani berbeda-beda terhadap ketiga jenis varietas tebu. Petani tebu cenderung lebih menyukai varietas masak akhir dibandingkan masak awal dan akhir. Petani juga lebih menyukai tebu varietas masak awal dibandingkan dengan varietas masak akhir. Hal ini dikarenakan varietas masak akhir diyakin oleh petani memiliki potensi produktivitas dan rendemen yang lebih tinggi dibandingkan dengan varietas masak awal atau tengah.

Keywords

tebu, preferensi petani, pendekatan multiatribut Fishbein

Full Text:

PDF PDF

References

Bantacut T. 2013. Pengembangan Pabrik Gula Mini untuk Mencapai Swasembada Gula. Pangan, 19 (3): 245-256.

Fahriyah, Hanani N., Koestiono, dan Syafrial D. 2018. Analisis Efisiensi Teknis UsahaTani Tebu Lahan Sawah dan Lahan Kering dengan Pendekatan Data Envelopment Analysis (DEA). Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis. Vol. 2(1): 77‒83.

Hartono. 2012. Efisiensi Produksi Tebu dan Gula Indonesia. Ekonomi Gula (hal. 15-29). Jakarta: PT. Gramedia.

Kementerian BUMN RI. 2016. Road Map Komoditi Tebu Nasional 2016-2019. Jakarta: Kementerian BUMN RI.

Marta S. 2011. Analisis Efisiensi Industri Gula di Indonesia dengan metode Data Envelopement Analysis (DEA) Tahun 2011-2010. Media Ekonomi 19 (1): 71-88.

Neves M, Vinicius GT, and Consoli M. 2009. The Sugar Energy Map of Brazil. Diakses tanggal 15 Juni 2016, dari http://www.sugarcane.org.

Sawit MH. 2010. Kebijakan Swasembada Gula Apanya yang Kurang?. Analisis Kebijakan pertanian 8(4): 283-302.

Subiyono.2014. Sumbangan Pemikiran Menggapai Kejayaan Industri Gula Nasional. PT. Perkebunan Nusantara X: Surabaya. Varian HR. 1992. Microeconomics Analysis. Third Edition. New York (US): M.W. Norton and Company.

Sugiyanto, C. 2007. Permintaan Gula di Indonesia. Jurnal Ekonomi Pembangunan, 8(2): 113 - 127.

Susilowati SH. dan Trinaprilla N. 2012. Analisis Efisiensi Usahatani Tebu di Jawa Timur. Jurnal Littri, 18(4): 162-172.

Tayibnapis AZ, Sundari MS, dan Wuryaningsih. 2016. Meningkatkan Daya Saing Pabrik Gula di Indonesia Era Masyarakat Ekonomi Asean. Jurnal Riset Ekonomi dan Manajemen, 16(2): 225-236.

Copyright (c) 2019 JURNAL PANGAN
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.