Penganekaragaman Konsumsi Pangan dan Gizi Faktor Pendukung Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia

Achmad Suryana
| Abstract views: 1842 | Untitled views: 1125

Abstract

Berbagai kajian di bidang gizi dan kesehatan menunjukkanbahwa untuk dapat hidup sehat dan produktif, manusia memerlukan sekitar 45 jenis zat gizi yang harus diperoleh dari makanan yang dikonsumsi, dan tidak ada satu jenis panganpun yang mampu memenuhi seluruh kebutuhan gizi bagi manusia. Untuk memenuhi kebutuhan gizi tersebut, setiap orang perlu mengkonsumsi pangan yang beragam dan bergizi seimbang, serta aman. Penganekaragaman konsumsi pangan dan gizi dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain : faktor yang bersifat internal (individual) seperti pendapatan, preferensi, keyakinan (budaya dan religi), serta pengetahuan gizi, maupun faktor eksternal seperti faktor agroekologi, produksi. ketersediaan dan distribusi, anekaragam pangan, serta promosi/iklan. Darisegi kuantitas, jumlah energi yang dikonsumsi penduduk pada tahun 2007 sebesar 2.015 kkal/kap/hari, telah melampaui angka tingkat konsumsi yang direkomendasikan Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi (WKNPG) VIII tahun 2004 sebesar 2000 kkal/kap/hari. Sementara konsumsi protein penduduk pada tahun 2007 telah mencapai 57,65 gram/kap/hari, harga telah melampaui angka kecukupan protein yang dianjurkan sebesar 52 gram/kap/hari. Indikator kualitas konsumsi pangan ditunjukkan oleh skor Pola Pangan Harapan (PPH). Selama 5 tahun terakhir telah terjadi peningkatan mutu gizi konsumsi pangan penduduk Indonesia yang diindikasikan dengan meningkatnya skor mutu gizi pangan (PPH) dari 77,5 (2003) menjadi 82,8 (2007). Namun demikian, terlihat bahwa konsumsi kelompok padi-padian masih mendominasi dibandingkan kelompok pangan lainnya dengan kontribusi 61,74 persen, padahal proporsi ideal yang diharapkan 50 persen dari total konsumsi energi yang dianjurkan. Upaya percepatan penganekaragaman konsumsi pangan diharapkan mencapai hasil maksimal pada tahun 2015 yang diindikasikan oleh tercapainya skor PPH mendekati 100 dan pangan yang tersedia aman untuk dikonsumsi berbasis sumberdaya lokal. Untuk mencapai target tersebut dilakukan pentahapan yang secara umum terdiri atas dua tahap, yaitu Tahap I (2008-2011) dan Tahap II (2012-2015). Untuk kurun waktu Tahun 2008 - 2011 kegiatan difokuskan kepada internalisasi penganekaragaman konsumsi pangan serta pengembangan ketersediaan bahan baku dan pasar domestik anekaragam pangan baik segar maupun olahan. Untuk kurun waktu tahun 2012 - 2015, upaya-upaya percepatan penganekaragaman konsumsi pangan adalah melanjutkan kegiatan Tahap I dengan penambahan kegiatan dan penekanan pada pembinaan pengembangan bisnis dan industri pangan.

Keywords

Konsumsi pangan; gizi

Full Text:

Untitled

References

Apriantono, A. 2007, Problematika Ketahanan Pangan, Makalah Disampaikan dalam diskusi Peta Problematika Ketahanan Pangan yang diselenggarakan oleh Yayasan SOLUSI BANGSA pada 9 Juli 2008 di Jakarta.

Badan Ketahanan Pangan. 2006. Food InsecurityAtlas, Jakarta, Departemen Pertanian.

Badan Penelitian dan Pengembangan. 2004. Peta Lahan Pertanian di Indonesia, Puslit Tanah. Badan Litbang. Departemen Pertanian.

Badan Pusat Statistik. 2007, Susenas, Badan Pusat Statistik.

Badan Pusat Statistik. 2008, Angka Ramalan III 2008 Badan Pusat Statistik.

Departemen Kelautan dan Perikanan. 2007, Statistik Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan.

Departemen Pertanian. 2006, Statistik Pertanian, Pusat Data dan Informasi Pertanian, Departemen Pertanian.

Departemen Pertanian 2007, Statistik Pertanian, Pusat Data dan Informasi Pertanian, Departemen Pertanian.

Dewan Ketahanan Pangan. 2005. Kebijakan Umum Ketahanan Pangan, Jakarta, Badan Ketananan Pangan Departemen Pertanian.

Copyright (c) 2016 JURNAL PANGAN

Refbacks

  • There are currently no refbacks.