Kajian Rendemen dan Mutu Giling Beras di Kabupaten Kotabaru Provinsi Kalimantan Selatan Assessment on Milling Yield and Milling Quality ofMilled Rice in Kota Baru District, South Kalimantan Province

Zahirotul Hikmah Hassan

Abstract


Proses penggilingan merupakan faktor yang sangat menentukan besarnya susut hasil maupun kualitas beras yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat rendemen dan mutu giling beras yang dihasilkan oleh beberapa unit penggilingan padi di Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan. Evaluasi dilakukan terhadap 51 sampel gabah kering (terdiri dari 2 varietas unggul, 14 lokal pasang surut, dan 5 lokal gunung/gogo) yang berasal dari 51 unit penggilingan padi yang ada di 11 kecamatan. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai rendemen Beras Pecah Kulit (BPK) dan Beras Giling (BG) rata-rata sebesar 73,88 persen dan 66,60 persen. Varietas lokal gogo/gunung memiliki rendemen BPK maupun BG tertinggi, masing-masing sebesar 76,07 dan 68,07 persen. Analisis mutu beras hasil penggilingan menunjukkan bahwa persentase beras kepala, beras patah, dan menir dari beras giling varietas unggul masing-masing adalah 58,10; 27,04; dan 10,14 persen. Persentase beras kepala, beras patah dan menir untuk beras giling varietas
lokal pasang surut masing-masing adalah 66,96; 23,91; dan 8,32 persen. Sedangkan persentase beras kepala, beras patah dan menir untuk beras giling varietas lokal gogo/gunung masing-masing adalah 57,86; 26,64; dan 11,62 persen. Kadar air gabah rata-rata yaitu 13,74 persen untuk varietas unggul, 14,12 persen untuk lokal pasang surut, dan 13,34 persen untuk lokal gogo/gunung. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa semua perusahaan penggilingan dikategorikan dalam Penggilingan Padi Kecil (PPK), dengan kapasitas penggilingan rata-rata sebesar 0,47 ton per jam. Inovasi teknologi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan rendemen dan kualitas beras giling di wilayah ini dengan mengintroduksikan penggunaan mesin paddy separator dan mesin paddy cleaner. Selain itu, perbaikan mindset petani dan manajemen usaha yang baik perlu dilakukan melalui pelatihan, magang dan studi banding.

Rice Milling is one of the factors that determines the post-harvest losses and the quality of the milled rice. This study is carried out in Kotabaru district of South Kalimantan province to assess 51 samples of milled rice (consists of two high yielding varieties, 14 local tidalswamp varieties, and 5 local upland varieties) taken from 51 units of the existing rice milling units in 11 sub-districts in Kotabaru district. The results show that the average yield of brown rice and milled rice are 73,88 and 66,60 percents, respectively. The local upland/
mountain varieties have the highest brown rice and milled rice yield, which are 76,07 and 68,07 percents, respectively. Analysis on the quality of the milled rice produced from high yielding varieties is 58,10, 27,04, and 10,14 percents of head rice, broken rice and min, respectively. The quality of the milled rice produced from local tidal swamp varieties is 66,96 percents, 23,91 percents, 8,32 percents of head rice, broken rice and min, respectively. While the qualityof the milled rice produced from local upland varieties is 57,86, 26,64, 11,62 percents of head rice, broken rice and min, respectively. The average of the grain moisture content is 13,74 percents forhigh yielding varieties, 14,12 percents for local tidalswamp varieties, and 13,34 percents forlocal upland varieties. Theassessment on the existing rice milling unitshow thatall the existing rice milling companies are categorizedas smallscale ricemilling units (RMU), with a milling capacityof 0,47 tons per hour. These results suggest thattechnologicalinnovations mightbe introduced orimplementedto increase the level ofyieldandquality of milled riceandthe introduction of the use paddyseparator andpaddycleaner. In addition, improvements of farmer mindsetand business managementneed to be done through training, internships and study visit,


Keywords


rice milling yield; quality; brown rice; milledrice

References


BPS. 1996. Survei susut pascapanen MT. 1994/1995 Kerjasama BPS, Ditjen Tanaman Pangan, Badan Pengendali Bimas, Bulog, Bappenas,

IPB, dan Badan Litbang Pertanian. Badan Pusat Statistik, Jakarta.

BPS. 2008. Laporan Hasil Survei Susut Panen Dan Pascapaen Gabah Beras Tahun 2005 - 2007. Badan Pusat Statistik, Jakarta.

BPS. 2010. Kalimantan Selatan Dalam Angka 2010. Badan Pusat Statistik Propinsi Kalimantan Selatan, Banjarmasin.

BPS. 2010. Kotabaru Dalam Angka 2010. Badan Pusat Statistik Kabupaten Kotabaru, Kotabaru. BSN. 2008. Standar Nasional Indonesia Beras Giling. SNI 6128:2008. Badan Standardisasi Nasional, Jakarta. 9 him.

Budiharti, U., Harsono dan Gultom, R. J. 2006a. Perbaikan Konfigurasi Mesin Pada Penggilingan Padi Kecil Untuk Meningkatkan Rendemen

Giling Padi. Balai Besar Mekanisasi Pertanian Serpong. 241

Budiharti, U., Tjahjohutomo, R., Harsono, Handaka,Gultom, R.J. 2006b. Rekayasa ModelMekanisasi Penggilingan Padi untuk Meningkatkan Rendemen Beras. Balai Besar Mekanisasi Pertanian Serpong.

Damardjati, D.S. dan Purwani, E.Y. 1991. Mutu Beras. him. 875-885. Dalam E. Soenarjo, D. S.Damardjati, dan M. Syam (Ed.). Padi. Buku 3.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor.

Dinas Pertanian Kabupaten Kotabaru. 2007. Laporan tahunan Dinas Pertanian Kabupaten Kotabaru Tahun 2007. Dinas Pertanian Kabupaten Kotabaru, Kotabaru. Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura

Kalimantan Selatan. 2007. Laporan tahunan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalimantan Selatan Tahun 2007. Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalimantan Selatan, Banjarbaru. Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian. 2007. Pedoman Teknis Penanganan Pascapanen dan Pemasaran Gabah. Departemen Pertanian Rl.

Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian. 2010. Pedoman Teknis Pengembangan Revitalisasi Penggilingan Padi Kecil. Kementerian Pertanian Rl.

Miilati, T. dan Susi. 2009. Mutu Giling Beberapa Varietas Gabah Lepas Panen. Ziraa'ah Vol. 24 No 1,2009: 61-67.

Mudjisihono. 1994. Prosedur Analisa untuk Mutu Gabah dan Beras. Balai Penelitian Tanaman Pangan Sukamandi, Jawa Barat.

Nugraha, S., Setyono, A. dan Damardjati, D.S. 2005. Pengaruh Keterlambatan Perontokan Padi Terhadap Kehilangan dan Mutu Pascapanen. Kompilasi hasil penelitian 1988/1989. Balai Penelitian Tanaman Pangan Sukamandi.

Nurmansyah, D. 2009. Meningkatkan Rendemen dan Kualitas Beras Giling Melalui Revitalisasi Sistem Penggilingan Padi Rakyat. Dalam http://perpadian.or.id/.

Patiwiri, A.W. 2006. Teknologi Penggilingan Padi. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Santika, A. dan Aliawati, G. 2007. Teknik Pengujian Tampilan Beras Untuk Padi Sawah, Padi Gogo, dan Padi Pasang Surut. Buletin TeknikPertanian Vol. 12 No. 1,2007: 19-23.

Setyono, A., Kusbiantoro, B., Jumali, Wibowo, P.dan Guswara, A. 2008. Evaluasi Mutu Beras di Beberapa Wilayah Sentra Produksi Padi. Prosiding Seminar Nasional Padi 2008. Setyono, A., Tahir, R., Soeharmadi dan Nugraha, S.1993. Perbaikan Sistem Pemanenan Padi untuk PANGAN, Vol. 23 No. 3 September 2014 : 232-243

Meningkatkan Mutu dan Mengurangi Kehilangan Hasil. Media Penelitian Sukamandi No. 13 hal 1-4.

Setyono, A., Sutrisno, dan Nugraha, S. 2006. Teknologi Penanganan Pascapanen Padi. Hasilhasil Penelitian BB-Pascapanen Berkenaan

dengan Kehilangan Hasil Padi Pada Saat Panen dan Pascapanen. WorkshopPengukuran Kehilangan Hasil Padi, Jakarta 19-20 September 2006.

Soerjandoko, R.N.E. 2010. Teknik Pengujian Mutu Beras Skala Laboratorium. Buletin Teknik Pertanian Vol. 15, No. 2, 2010: 44-47.

Suismono, Setyono, A., Indrasari, S.D., Wibowo, P.dan Las, I. 2003. Evaluasi MutuBeras Berbagai Varietas Padi di Indonesia. Balai Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi, Jawa Barat. Suismono. 2002. Standardisasi Mutu Untuk Perdagangan Beras di Indonesia. Majalah Pangan 39(XI): 37-47.

Susanty. 2006. Identifikasi Kualitas Beras Lokal di Kalimantan Selatan. Skripsi Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru.

Umar, S. 2011. Pengaruh Sistim Penggilingan Padi terhadap Kualitas Giling di Sentra Produksi Beras Lahan Pasang Surut. Jurnal Teknologi

PertanianJC):9-W.

Umar, S., Noor, H. Dj., dan Herawati 1.1988. Pengaruh Pemupukan Terhadap Mutu Beras Padi Pasang Surut. Prosiding Seminar Penelitian Pasca Panen Pertanian. p. 91-96. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Deptan. Bogor, 1-2 Februari 1988.

Wijaya. 2009. Pengaruh Kadar Air Terhadap Mutu Fisik Beras Giling. Dalam http://fapertausnwagati.com/.


Full Text: Untitled

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2016 JURNAL PANGAN