Potensi dan Pemanfaatan Pati Sagu dalam Mendukung Ketahanan Pangan di Kabupaten Sorong Selatan Papua Barat (Potential and Utilization of Sago Starch to Support Food Security in South Sorong Regency, West Papua)

Bambang Haryanto
| Abstract views: 1430 | Untitled views: 4611

Abstract

Kabupaten Sorong Selatan memiliki potensi sagu (Metroxylon sp). Namun luas areanya masih belum pasti, pemanfaatan pati sagu masih terbatas sebagai pangan pokok masyarakat tertentu. Studi ini bertujuan mengetahui potensi dan pemanfaatan sagu di Kabupaten Sorong Selatan. Metodologi yang digunakan adalah pemetaan dengan citra satelit dan survei lapangan. Potensi sagu dihitung menggunakan persamaan Yumte. Hasil pemetaan area potensi sagu mencapai 311,5 ribu ha dan tersebar di 8 distrik dengan potensi pati sagu sebesar 2,9 juta ton. Areal sagu terluas terdapat di distrik Kais sebesar 63,8 ribu ha, Kokoda 61,3 ribu ha, Inanwatan 55,5 ribu ha, Saefi 39,6 ribu ha dan Kokoda utara 34,5 ribu ha. Kerapatan pohon sagu masa tebang setiap ha mencapai 67 pohon dan diameter rata-rata 41,2 cm dengan tinggi pohon 9,9 m. Estimasi produksi sagu mencapai 9,7 ton per ha. Usulan untuk membuka pasaran pati sagu salah satu strarteginya adalah setiap pegawai negeri sipil di Kabupaten Sorong Selatan mendapatkan jatah sagu setiap bulannya sebesar 10 kg sebagai bentuk implementasi penggunaan bahan baku lokal dalam mendukung ketahanan pangan. Pemanfaatan potensi sagu ini bila dapat diterapkan di lapangan akan membuka kegiatan ekonomi dan mendukung ketahanan pangan di wilayah Sorong Selatan

South Sorong Regency has the potential of sago (Metroxylon sp). However, its area remains unclear. The utilization of sago starch has been limited as a staple food of certain communities. This study aims to determine the potential and utilization of sago in South Sorong Regency.The methodology used is maping with satellite imagery and field surveys. Potential sago is calculated using Yumte formulation. The results show that the potential area reaches 311.5 thousand hectares and spreads over 8 districts, whilts sago starch potential is approximately 2.9 million tons. The widest sago areas are located in the districts of Kais (63.8 thousand ha), Kokoda (61.3 thousand ha), Inanwatan (55.5 thousand ha), Saefi (39.6 thousand ha) and in northern Kokoda (34.5 thousand ha). The Sago tree density is 67 trees per ha with an average diameter of 41.2 cm and height of 9.9 m.The estimation of sago production is about 9.7 tons per hectare. A strategy to open up the market is to impose a policy in which each civil servant in South Sorong regency would get sago of 10 kg/month as an implementation of the use of local production for food security. This strategy is hoped to open up the economic activities in the region of South Sorong.

Keywords

Sago’s potential; utilization; South Sorong regency; Metroxylon sp.

Full Text:

Untitled

References

Alfons, J.B. dan Arivin, A. Rivai. 2011. Sagu Mendukung Ketahanan Pangan Dalam Menghadapi Dampak Perubahan Iklim. Jurnal

Perspektif Vol 10 No 2. Desember.

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. 2014. Master Plan Pengembangan Sagu di kabupaten Sorong Selatan. Kerjasama dengan BPPT Enjinering. Jakarta

Badan Statistik Daerah. 2014. Kabupaten Sorong Selatan Dalam Angka tahun 2013. Temnibuan. Sorong Selatan

Bintoro, D, Shandra A, Ratih K D, Destieka A.2013. Sagu Mutiara Hijau Khatulistiwa yang dilupakan. Digreat Publishing. Bogor.

Bintoro, D, Ngadiyono, Setia H. 2013. Master Plan Pengembangan Sagu di Papua dan Papua Barat. Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat. Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat(UP4) kerjasama dengan IPB Bogor. Bogor

Flach. M. 1997. Sago Palm Metroxylon Sagu Rottb. International Plant Generic Resources Institute. Rome. Promoting The Conservation and The use of under utilized ang neglected Crops.

Louhenapessy, J.E. A. Sarjana, M. Luhukay, H.Talahattu, F. Polnaya, H. Salampessy, R.B. Riry,A. Ngingi, S. Handal, Ilyas Nurdin, J. Latuputty,

M. Hursepuny dan A. Patimukay. 2011. Usulan Pelepasan Varietas Sagu Molat Maluku. Dinas Potensi Dan Pemanfaatan Pati Sagu Dalam Mendukung Ketahanan Pangan Di Kabupaten Sorong Selatan Papua Barat 105 Bambang Haryanto, Mubekti dan Agus Tri Putranto

Pertanian Provinsi Maluku dan BBP2TP Ambon Ditjen Perkebunan-Kementrian Pertanian. 52 hal.

Muhidin, Siti L, Makmur J. A dan Sumarlin. 2012. Pengaruh Perbedaan Karakteristik Iklim Terhadap Produksi Sagu. Jurnal Agroteknos

Nopember. Volume 2 No 3. ISSN 2087-7706 Novarianto, 2011. Sumber Daya Genetik Sagu Mendukung Pengembangan Sagu di Indonesia. Penguatan Inovasi Teknologi Mendukung Kemandirian Usahatani Perkebunan Rakyat. Balai Penelitian Tanaman Palma Manado.

Jong, F.S. 2011. Growth and Yield Parameters of Natural Sago Forests for Commercial Operations. Abstract In Program Book: The 10 International Sago Symposium. Sago for Food Security, Bio-energy, and Industry from Research to Market. IPB International

Convention Center. 29-30 October 2011, Bogor, Indonesia.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal. www. hukumonline.com (diakses tgl 17 Juni 2015)

Prabowo, R. 2010. Kebijakan Pemerintah dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan di Indonesia. Jurnal MEDIAGRO 62 VOL 6. NO 2, HAL 62- 73

Suryana, A 2005. Kebijakan Ketahanan Pangan Nasional. Makalah IPB. Bogor.

Suryana, A. 2007. Arah dan Strategi Pengembangan Sagu di Indonesia. Prosiding Lokakarya Pengembangan Sagu di Indonesia. Bogor. Puslitbangbun.

Yumte, Y. 2008. Penyusunan Model Penduga Berat Basah Tepung Sagu Duri (Metroxylon rumphii) di Kabupaten Sorong Selatan. Tesis S2. Fakultas Kehutanan. IPB. Bogor. 82 h.

Copyright (c) 2016 JURNAL PANGAN

Refbacks

  • There are currently no refbacks.