Peranan Pendekatan Teknologi dan Input Produksi terhadap Produktivitas dan Mutu Hasil Padi

Sarlan Abdulrachman
| Abstract views: 362 | Untitled views: 788

Abstract

Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) maupun System of Rice Intensification (SRI) merupakan pendekatan teknologi padi yang saat ini banyak dikembangkan di Indonesia. Kedua pendekatan ini mempunyai tujuan yang serupa meskipun komponen teknologi yang digunakan tidak semuanya sama. Dalam konsep budidaya SRI, tanaman padi diperlakukan sebagai organisme hidup dengan kesehatan tanah menjadi dasar untuk mendapatkan hasil gabah yang tinggi dan perhatian tentang pemanfaatan pupuk organik menjadi prioritas utama. Sedangkan PTT merupakan upaya bagaimana sumber daya tanaman, lahan dan air dikelola agar mampu memberikan manfaat yang sebesarbesarnya serta dapat menunjang peningkatan produktivitas lahan dan tanaman. Dari
hasil demontrasi plot terlihat bahwa dengan penggunaan pupuk organik saja (metode SRI) yang dibandingkan dengan penggunaan kombinasi pupuk kimia dan organik (metode PTT) pada tanaman padi memberikan perbedaan hasil yang cukup mencolok, PTT > SRI. Biaya tenaga kerja dan sarana produksi metode SRI jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan metode PTT, sehingga mengakibatkan rasio R/C pada metode SRI juga rendah. Kurangnya pasokan unsur hara P dan K pada metode SRI diduga menyebabkan mutu fisik beras menjadi kurang baik. Mengingat semakin meningkatnya permintaan beras nasional, maka teknologi yang harus dikembangkan adalah yang dapat menjamin kelestarian lingkungan, namun tetap memberikan produksi tinggi untuk mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus pendapatan petani.

Integrated Crop Management (ICM) and System of Rice Intensification (SRI) are
approaches of current rice technology that have been developed in Indonesia. Both approaches have similar objectives even though components of the technology used are not all the same. In the concept of SRI, rice is treated as a living organism with the soil fertility as a basic concern to obtain a high grain yield and the use of organic fertilizer is a top priority. While ICM is an attempt how plant, land and water resources are managed in order to provide maximum benefits and support the increased productivity of both land and crops. The demonstration plot shows that the use of only organic fertilizers (SRI method) compared to the combined use of chemical and organic fertilizers (ICM method) on rice results in quite contrast difference, ICM > SRI. Labor costs andinput production of SRI method are much higher than those of ICM method, so that the result of R/C ratio on the SRI method is also low. Due to lack of supply of nutrients P and K on SRI method, it was supposed to become less physical rice quality. Given the increasing national demand for rice, the technology that must be developed is to ensure environmental sustainability, while it can still provide high production to support national food security and farmers’ incomes.

 

Keywords

Integrated crop management; system of rice intensification; paddy

Full Text:

Untitled

References

Allidawati dan B. Kustianto. 1988. Metode Uji Mutu Beras dalam Program Pemuliaan Padi. Di dalam M. Ismunadji, M. Syam dan Yuswadi

(Eds). Padi 2. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor. p:363-376.

Makarim, A.K., D. Pasaribu, Z. Zaeni dan I. Las. 2003. Analisis dan Sintesis Hasil Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT)

dalam Program P3T. IAARD, Dept. of Agriculture.

Purwanto. 2009. Pertumbuhan dan Hasil Empat Varietas Padi (Oryza sativa L.) pada Sistem Pertanian Organik, Semiorganik dan Pertanian

Konvensional. Thesis S2 Fak. Pertanian UGM. Yogyakarta.

Widyantoro, Trini S.K., D.Setiobudi, Z. Susanti, L.M.Zarwazi, N. Agustiani, dan S. Abdulrachman. 2009. Verifikasi Pencapaian Produksi Padi Pola SRI Dan PTT. Laporan akhir tahun. BB Padi. Unpublised.

Copyright (c) 2016 JURNAL PANGAN

Refbacks

  • There are currently no refbacks.