Pemanfaatan Ampas Basah Tapioka Sebagai Media Fermentasi dalam Pembuatan Nata De Cassava (Utilization of Tapioca Wet Solid Waste as Media for Fermentation in Producing Nata de Cassava)

Nur Kartika Indah Mayasti, Darmawan Ari Nugroho
| Abstract views: 1212 | Untitled views: 2364

Abstract

Industri tapioka menghasilkan produk samping sebesar dua per tiga dari bahan mentahnya berupa bonggol, kulit, dan ampas tapioka. Dalam penelitian ini, ampas basah tapioka dimanfaatkan sebagai medium fermentasi Acetobacter xylinum untuk menghasilkan nata de cassava. Pati yang terkandung dalam ampas dihidrolisis secara enzimatis untuk menghasilkan gula reduksi yang kemudian diperkaya dengan sumber nitrogen sebanyak 0,2 persen (b/v) amonium sulfat. Selama proses fermentasi 14 hari terjadi pertumbuhan biomasa yang ditunjukkan dengan adanya penurunan nutrisi dalam medium fermentasi berupa perubahan gula reduksi dalam dari 6,66 menjadi 4,81 persen, densitas optikal menjadi 0,6 dan tingkat keasaman meningkat dari 4,4 menjadi 2,9. Dari hasil penelitian diperoleh nata de cassava dengan kadar serat 1,71 persen, kadar air 97,83 persen dan ketebalan lapisan nata 1,7 cm.

Tapioca industry produces starch as the main product, while two third of raw materials are wasted as knobs, peels and wet solid waste. In this study, the wet solid waste was used as substrate for fermentation by Acetobacter xylinum to produce nata de cassava. Starch contained in the pulp was hydrolyzed to simple reducing sugar (glucose) and enriched by addition of ammonium sulfate as source of nitrogen at 0.2 percent (w/v) and extended fermentation period to 14 days. The rate of biomass growth was inferred by sugar content decreased from 6.66 to 4.81 percent, optical density increased to 0.6, and substrate acidity increased from 4.4 to 2.9, respectively. This research produced nata de cassava with fiber content of 1.71 percent, water content of 97.83 percent, and layer thickness of 1.7 cm.

 

Keywords

cassava wet solid waste; fermentation substrate; nata de cassava; Acetobacter xylinum

Full Text:

Untitled

References

Azwar, D. dan R. Erwanti. 2008. Pembuatan Sirup Glukosa dari Kimpul (Xanthosoma violaceum schott) dengan Hidrolisa Enzimatis. Laporan

Penelitian, Fakultas Teknik. Semarang : Universitas Diponegoro.

Effendi, N. H. 2009. Pengaruh Penambahan Variasi Massa Pati (Soluble Starch) pada Pembuatan Nata de coco dalam Medium Fermentasi Bakteri Acetobacter xylinum. Skripsi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam : Universitas Sumatera Utara.

Herman, A. S. 1979. Pengolahan Air Kelapa. Buletin Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia. 1 (1/20) : 9-17.

Jagannath, A., Kalaiselva, A., Manjunatha, S. S., Raju, P. S dan Bawa, A. S. 2008. The Effect of pH, Sucrose and Ammonium suplphate concentrations on the Production of Bacterial Cellulose (Nata-de-coco) by Acetobacter xylinum. World J Microbiol Biotechnology 24:2593-2599.

Lapuz, M. M., E. G. Gallardo dan M. A. Palo. 1967. The Nata Organism Cultural Requirements Characteristic and Identify. The Phillippine Journal of Science. 98 : 101-109.

Naufalin, R dan Wibowo, C. 2004. Pemanfaatan Hasil Samping Pengolahan Tepung Tapioka untuk Pembuatan Nata de cassava : Kajian Penambahan Sukrosa dan Ekstrak Kecambah. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan. Vol XV, no. 2 : 153-158.

Nurhayati, S. 2006. Kajian Pengaruh Kadar Gula dan Lama Fermentasi Terhadap Kualitas Nata de Soya. Jurnal Matematika, Sains, dan Teknologi. 7/1 : 40 - 47.

Mayasti, N. K. I., Wibowo. I., Margianto. 2009. Pengolahan Limbah Industri Tapioka Studi Kasus UKM. Pati Aci di Pundong, Bantul. Laporan Penelitian, Fakultas Teknologi Pertanian, Yogyakarta : Universitas Gajah Mada.

Prasetyana, D. S. 2009. Kualitas Bioetanol Limbah Tapioka Padat Kering Dihaluskan (Tepung) dengan Penambahan Ragi dan H2SO4 pada Lama Fermentasi yang Berbeda. Skripsi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Surakarta : Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Pambayun, R. 2002. Teknologi Pengolahan Nata de coco. Yogyakarta : Kanisius.

Purwoko, T. 2007. Fisiologi Mikrobia. Jakarta : Bumi Aksara.

Pelczar, M. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: UI-Press.

Prasongsuk, S., Berhow, M.A., Dunlap, C. A., Weisleder, D., Leathers T. D., Eveleigh, D. E dan Punnapayak, 2007. H. Pullulan Production by Several Local Isolates of Aureobasidium Pullulans. Journal of Industrial Microbiology and Biotechnology. 34 (1) : 55-61.

Sriroth, Klanarong,, Chollakup, R., Chotineeranat., Piyachomkwan dan Oates, Christopher. 2000. Processing of Cassava Waste for Improved Biomass Utilization. Bioresource Technology 71: 63-79.

Sudarmadji, Haryono dan Suhardi. 1996. Pedoman Analisa untuk Bahan Makanan dan Pertanian. Yogyakarta : PT. Liberty.

Sudjana. 1996. Teknik Analisis Regresi dan Korelasi. Bandung : Tarsito.

Suharsini, E. 2010. Bioremediasi Limbah Cair Nanas Sebagai Bahan Baku Pembuatan Nata de Pina. Skripsi, FMIPA. Malang : UM.

Suryani, S., E. Hambali dan Prayaga. 2005. Membuat Aneka Nata. Penebar Swadaya. Jakarta.

Wibowo I. T., N. K. I. Mayasti., Margianto dan M. F. Farisy. 2009. Pelatihan Pembuatan Nata de cassava melalui Pemberdayaan Kelompok Tani perajin Tapioka Desa Srihardono, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Laporan Penelitian, Fakultas Biologi. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.

Wibowo, I. T. 2009. Produksi Polisakarida Ekstraseluler oleh Acetobacter xylinum pada Medium Cair Ekstrak Onggok untuk Produksi Nata de cassava. Skripsi, Fakultas Biologi, Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.

Widia. I. W. 1984. Mempelajari Pengaruh Penambahan Skim Milk Kelapa, Jenis Gula dan Mineral dengan Berbagai Konsentrasi pada Pembuatan Nata de coco. Skripsi, Fakultas Pertanian, Bogor : IPB.

Copyright (c) 2016 JURNAL PANGAN

Refbacks

  • There are currently no refbacks.