Penguatan Indikasi Geografis Beras Pandanwangi Cianjur: KajianKomparatif Standar Indonesia dan Jepang (Strengthening Geographical Indication of Pandanwangi Cianjur Rice:Comparative Study Indonesia-Japan Standards)
Main Article Content
Abstract
Indikasi Geografis (IG) merupakan instrumen penting untuk melindungi produk lokal yang memiliki kualitas dan karakteristik khas akibat faktor alam maupun manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kelemahan deskripsi IG Beras Pandanwangi Cianjur dan menyusun rekomendasi penguatan melalui perbandingan dengan standar IG Jepang yang diatur oleh Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries (MAFF). Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif berbasis studi pustaka, dengan sumber utama berupa dokumen resmi IG Pandanwangi Cianjur dari Pangkalan Data Kekayaan Intelektual (PDKI) serta Berita Resmi IG No. 03/IG/VII/A/2015, yang kemudian dibandingkan dengan pedoman teknis IG Jepang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa deskripsi IG Pandanwangi Cianjur belum sepenuhnya memenuhi ketentuan dalam PP No. 51 Tahun 2007, karena hanya menekankan ciri fisik beras dan lokasi budidaya secara umum. Unsur penting seperti batas wilayah administratif, sejarah dan reputasi, faktor ekologi, metode produksi, pengawasan mutu, serta sistem pelabelan belum dijabarkan secara rinci. Kondisi ini berpotensi
melemahkan perlindungan hukum dan daya saing produk. Sebaliknya, sistem Jepang menekankan kualitas, reputasi historis, keterkaitan ekologis, serta peran aktif kelompok produsen dalam pengelolaan IG. Oleh karena itu, penyempurnaan deskripsi IG Pandanwangi Cianjur melalui integrasi dimensi kualitas, sosial budaya, ekologi, dan kelembagaan sangat penting untuk memperkuat identitas, meningkatkan nilai tambah ekonomi, dan mendukung keberlanjutan produk di pasar global.
Geographical Indication (GI) is an important instrument to protect local products with distinctive qualities and characteristics shaped by both natural and human factors. This study aimed to identify weaknesses in the GI description of Pandanwangi Cianjur rice and to provide recommendations for strengthening it by comparing it with the Japanese GI standards set by the Ministry of Agriculture, Forestry, and Fisheries (MAFF). The research applied a descriptive qualitative method based on a literature study, using the official GI description of Pandanwangi Cianjur from the Intellectual Property Database (PDKI) and the Official GI Gazette No. 03/IG/VII/A/2015, which were then compared with Japanese technical guidelines and GI descriptions. The results indicated that the GI description of Pandanwangi Cianjur did not fully comply with Government Regulation No. 51 of 2007, as it primarily described the rice's physical attributes and general cultivation areas. Essential elements such as administrative boundaries, history and reputation, ecological factors, production methods, quality control mechanisms, and labeling systems were not explained in detail. This condition may weaken both legal protection and product competitiveness. In contrast, the Japanese system emphasized product quality, historical value, ecological linkages, and the active involvement of producer organizations in GI management. Therefore, improving the GI description of Pandanwangi Cianjur by integrating quality, socio-cultural, ecological, and institutional dimensions is crucial to strengthen identity, increase economic value, and support the sustainability of local products in global markets.
Article Details
Section

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
catatan copyright agar disepakati oleh penulis.
Penulis sepakat dengan ketentuan-ketentuan dalam etika publikasi
Penulis menyatakan bahwa karya tulis yang diserahkan untuk diterbitkan adalah asli, belum pernah dipublikasikan di manapun dalam bahasa apapun, dan tidak sedang dalam proses pengajuan ke penerbit lain
References
SNI. (2020). Standar Nasional Beras. Badan Standardisasi Nasional.
Bonanno, A., Sekine, K., & Feuer, H. N. (2019). Geographical Indication and Global Agri-Food: Development and Democratization. In Geographical Indication and Global Agri-Food: Development and Democratization (Vol. 17). https://doi.org/10.4324/9780429470905
Carolan, M. (2015). Affective sustainable landscapes and care ecologies: getting a real feel for alternative food communities. Sustainability Science, 10(2), 317–329. https://doi.org/10.1007/s11625-014-0280-6
Fauzi, M. (2021). Pemetaan Sebaran Daerah Rawan Kekeringan untuk Menentukan Sistem Pertanian di Kabupaten Lombok Tengah. Geodika: Jurnal Kajian Ilmu Dan Pendidikan Geografi, 5(1), 144–153. https://doi.org/10.29408/geodika.v5i1.3447
Henry, M., & Roche, M. (2013). Valuing lively materialities: Bio-economic assembling in the making of new meat futures. New Zealand Geographer, 69(3), 197–207. https://doi.org/10.1111/nzg.12021
Kizos, T., Koshaka, R., Penker, M., Piatti, C., Vogl, C. R., & Uchiyama, Y. (2017). The governance of geographical indications: Experiences of practical implementation of selected case studies in Austria, Italy, Greece and Japan. British Food Journal, 119(12), 2863–2879. https://doi.org/10.1108/BFJ-01-2017-0037
Lastriyanto, I. A., & ., Sumarlan, I. S. H., & Lailatul Maghfiroh, S. T. (2024). Mekanisasi Produksi Padi dan Beras Jilid 2. Media Nusa Creative (MNC Publishing).
Li, T. M. (2007). Practices of assemblage and community forest management. Economy and Society, 36(2), 263–293. https://doi.org/10.1080/03085140701254308
Lisarini, E., & Antika, N. (2020). Audit Keseimbangan Konsumsi Dan Produksi Beras Pandanwangi (Studi Kasus Di Pb Sindang Asih, Pb Okh Dan Cv Pure Kabupaten Cianjur). AGRITA (AGri), 1(1), 1. https://doi.org/10.35194/agri.v1i1.803
Malia, R. (2020). Rantai Pasok Beras Pandanwangi Di Kabupaten Cianjur. Agroscience (Agsci), 10(2), 196. https://doi.org/10.35194/agsci.v10i2.1162
Megasari, R., Asmuliani, R., Darmawan, M., Sudiarta, M. I., & Andrian, D. (2021). Uji Beberapa Sistem Tanam Jajar Legowo terhadap Pertumbuhan dan Produksi Padi Varietas Ponelo (Oryza sativa L.). Jurnal Pertanian Berkelanjutan, 9(1), 1–9.
Morris, C., & Kirwan, J. (2011). Ecological embeddedness: An interrogation and refinement of the concept within the context of alternative food networks in the UK. Journal of Rural Studies, 27(3), 322–330. https://doi.org/10.1016/j.jrurstud.2011.03.004
Muhyi, D. R. A. (2022). Analisis Usaha Tani Dalam Meningkatkan Produksi Padi Di Kecamatan Warungkondang Kabupaten Cianjur. Repository.Uinjkt.Ac.Id, 11150150000115. https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/62192%0Ahttps://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/62192/1/11150150000115_Dede Ridwan Abdul Muhyi %28PT%29.pdf
Nobuo Sakagami, Fumitaka Shiotsu, Nurwulan Agustiani, Masakazu Komatsuzaki, & Youji Nitta. (2016). Characteristics of elemental composition and organic component of Indonesian rice : Examples of several products in Indonesia including organic rice. Tropical Agriculture and Development, 60(2), 65–70.
Purwa Tri Cahya, A., Hisyam Ramdhan, F., Oktavia Nur Ydiastuti, S., Karakteristik FisikoKimia dan Mutu Tanak Beras Pandan Wangi, A., dan Ketan Putih Sebagai Kandidat Pangan Fungsional, R., Tri Cahyana, P., Hisyam Ramadhan, F., Oktavia Nur Yudiastuti, S., Riset Agro Industri, P., Riset dan Inovasi Nasional, B., Rekayasa Pangan, T., Teknologi Pertanian, J., & Negeri Jember, P. (2024). and Glutinous Rice as a Functional Food Candidate. JOFE : Journal of Food Engineering | E-ISSN, 3(2), 42–54.
Ratnawati, Djaeni, M., & Hartono, D. (2013). Perubahan Kualitas Beras Selama Penyimpanan. Pangan, 22(3), 199–207.
Rayhan, M. U., Shozib, H. B., Azam, F. M. S., & Islam, T. (2023). Variability in 2-acetyl-1-pyrroline production and associated mutations in BADH2 gene in aromatic rice cultivars of Bangladesh. Gene Reports, 33, 101847. https://doi.org/10.1016/j.genrep.2023.101847
Soetoprawiro, K., Aridhayandi, M. R., Mulyadi, D., Mulyana, A., & Ramdhi, M. F. (2021). Authorities of Local Governments Regarding Conservation of Pandanwangi Rice Farming Land of Cianjur As Part of Geographic Indications. Jurnal IUS Kajian Hukum Dan Keadilan, 9(2), 351–363. https://doi.org/10.29303/ius.v9i2.900
Sumiyati, Y., & AR, T. (2015). Model Partisipatif Penyusunan Buku Persyaratan Sebagai Prasyarat Perlindungan Hukum Indikasi Geografis. Jurnal Hukum Ius Quia Iustum, 22(3), 442–466. https://doi.org/10.20885/iustum.vol22.iss3.art6
Supyandi, D., Sukayat, Y., & Charina, A. (2019). Sustainable local rice development (a case of pandanwangi rice development in Cianjur, Indonesia). IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 306(1). https://doi.org/10.1088/1755-1315/306/1/012034
Susiyanti, Rusmana, Maryani, Y., Sjaifuddin, Krisdianto, N., & Syabana, M. A. (2020). The physicochemical properties of several Indonesian rice varieties. Biotropia, 27(1), 41–50. https://doi.org/10.11598/btb.2020.27.1.1030
Tando, E. (2019). Upaya Efisiensi Dan Peningkatan Ketersediaan Nitrogen Dalam Tanah Serta Serapan Nitrogen Pada Tanaman Padi Sawah ( Oryza Sativa L.). Buana Sains, 18(2), 171. https://doi.org/10.33366/bs.v18i2.1190
Zahida, I. M., Putri, S. R., & Wicaksono, A. S. (2021). Perlindungan Hukum Potensi Indikasi Geografis Guna Meningkatkan Ekonomi Masyarakat (Studi pada Kabupaten Trenggalek). Jurnal Magister Hukum Udayana (Udayana Master Law Journal), 10(2), 309. https://doi.org/10.24843/jmhu.2021.v10.i02.p09
Putri, Ria Wierma. (2021). the Development of Geographical Indications Protection in Indonesia: Beyond the Sui Generis System. https://kanazawa-u.repo.nii.ac.jp/index.php?action=repository_action_common_download&item_id=57073&item_no=1&attribute_id=31&file_no=1&page_id=13&block_id=21