Analisa Hasil Sensus Penggilingan Padi 2012 (Analysis ofRice Milling 2012 Census Results)

M. Husein Sawit
| Abstract views: 633 | Untitled views: 542

Abstract

Sejak lama, Penggilingan Padi (PP) di Indonesia didominasi oleh PP Kecil (PPK). PP jenis ini tidak mampu menghasilkan beras kualitas baik dengan biaya rendah. Jumlah PP terus bertambah, terutama jumlah PPK. PPsaat inisedang menghadapi kesulitan memperoleh gabah dan diduga mempunyai kapasitas terlantar yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah : (i) menganalisa pertambahan PP, dan (ii) menghitung kapasitas terlantar PP. Penelitian ini menggunakan hasil sensus Pendataan Industri Penggilingan Padi (PIPA) BPS 2012. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa jumlah PP telah mencapai 182 ribu unit, 86 persen berada di 13 propinsi utama penghasil padi. Pangsa Penggilingan Padi Besar (PPB) sangat kecil (1 persen), sebaliknya pangsa PPK sangat besar (93 persen). PPK dan Penggilingan Padi Keliling (PPKL) terus bertambah tanpa kendali. Disimpulkan bahwa kesulitan utama PP adalah ketersediaan bahan baku gabah dan modal. Total angka kapasitas terlantar PP secara umum adalah sebesar 15 persen, dimana kapasitas terlantar untuk PPB dan PPK adalah, masing-masing sebesar 10 persen dan 17 persen. Pengadaan beras kualitas medium oleh BULOG telah menjadi salah satu faktor penghambat perbaikan kualitas beras. Dominasi PPK dan PPKL berimplikasi menghambat upaya pengurangan kehilangan hasil pada tahap pengeringan dan penggilingan, menyebabkan rendahnya rendemen giling, serta telah mempersulit upaya peningkatan kualitas beras dan efisiensi; yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan biaya produksi beras dan harga beras menjadi mahal. 

The rice milling industry in Indonesia has been dominated by small scale rice mills for a long time. This type ofmills is incapable ofproducing good quality rice at low costs. The number of small scale rice mills (SSRM) has continued to grow. This type of rice mills is currentlypresumed to face serious difficulty in obtaining grains, resulting in quite high idle capacity The purposes of this paper are: (i) to analyze the increasing numberof rice mills, and (ii) to calculate the rice mills'idle capacity Thisstudy uses 2012 CBS Rice Milling Census data. The results of the study show that the number of rice mills has reached 182 thou sand units of which 86 percent are located in 13 of the main rice producing provinces. The share of large scale rice mills (LSRM) is very small (1 percent); in contrary the share ofSSRM is very large (93 percent). The total idle capacity ofrice mills is about 15 percent for which the idle capacity forLSRMaccounts for 10 percent and SSRM 17 percent. The predominance of small scale and mobile rice mills has provided sev eral implications: hindered efforts to reduce losses duringdryingand milling stages; resulted in low milling yields; and undermined the efforts to improve the rice qualityand cost efficiency which in turn resulted in the increase of production costs and higher rice prices. 

Keywords

rice mills; business scale; idle capacity.

Full Text:

Untitled

References

Alimoeso.S. 2014. Jendral Semut Sutarto Alimoeso Membangun Bulog yang Baru. CV Kreatif Media: Jakarta.

Arifin, B. 1994. Pangan dalam Orde Baru. Editor A.Z.Abidin, P.Tjiptoherijanto, dan S. Natakusumah. Konpindo (edisi ke-2): Jakarta

ASEAN. 2013. Asean Economic Community (AEC).

http://www.thaiistik-gesellschaft. del archive/asean/AEC_persen_20_rev._pdf, diakses 18 Desember 2013.

BPS. 2012. Pendataan Industri Penggilingan Padi (PIPA). Katalog BPS:6106001. Oktober2012. Departemen Perdagangan Repulik Indonesia. 2013. Menuju Asean Economic Community 2015.

http://ditjenkpi.kemendag.go.id/website_kpi/

Umum/ Setditjen/ Buku persen 20 Menuju persen 20 ASEAN persen 20 ECONOMIC persen 20 COMMU. diakses 17 Desember 2013.

Ditjen P2HP Kementan. 2009. Kebijakan Penanganan Pasca Panen, Perberasan Nasional, Penerapan Jaminan Mutu dan Keamanan Pangan serta Pemasaran Gabah. Ppt.

Hasbullah,R. dan TBantacut. 2006. Teknologi Pengolahan Beras ke Beras. Dalam Prosiding Lokakarya Peningkatan Dayasaing Beras

Nasional Melalui Perbaikan Kualitas. Perum BULOG dan FTP IPB: Bogor

Iswadi. 2014. Angka Produksi dan Konsumsi Beras. Kompas (opini), tgl 20 Maret 2014.

Mears, L.A. 1981. The New Rice Economy of Indonesia. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta

Patiwiri, A.W. 2006. Teknologi Penggilingan Padi. PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta

Patiwiri, A.W. 2008. Kajian tentang Integrasi Proses Pasca Panen untuk Komoditas Padi. PPt direktur SDM dan Umum BULOG: Jakarta.

PERPADI. 2014a. Penggilingan Padi Menyongsong AEC. PPt disiapkan oleh B. Pasdom, yang disampaikan pada FGD di FKPR (Forum Komunikasi Profesor Riset), Bogor tgl 28 Maret 20014.

PERPADI. 2014b. Keberadaan Penggilingan Padi Keliling. PPt disiapkan oleh B. Pasdom, yang disampaikan pada FGD di FKPR (Forum Komunikasi Profesor Riset), Bogor tgl 28 Maret 20014.

PERPADI. 2002. Data Sekretariat/DPP Persatuan Penggilingan Padi: Jakarta. Rosner, L.P and N.McCulloch. 2008. A Note on Rice Production, Consumption and Import Data in Indonesia. BIES 44(1 ):81-91 2014 : 208-219; Saefullah, A. 2014.

Sawit, M.H. 2010. Reformasi Kebijakan Harga Produsen dan Dampaknya Terhadap Daya Saing Beras. Naskah orasipengukuhan Profesor Riset.

Badan Litbang Pertanian Kementan, Bogor 21 Juni 2010.

Sucofindo. 2011. Metodologi Pendugaan Stok Beras Nasional. PPt disampaikan oleh M.Heru Riza pada pembahasan Kajian Konsumsi dan Cadangan Beras Nasional. Hotel Puri Avia, Cipayung tgl 18-19 Februari 2011.

Sudarsono. 2001. Kamus Ekonomi Uang dan Bank. (cetakan ke-2). Penerbit Rineka Cipta: Jakarta Suwito, S. 2007. Statistik Beras. Kompas (opini), tgl 11 Januari2007.

Thahir, R. 2013. Usaha Penggilingan Padi Skala Kecil: Penyangga Cadangan Beras Nasional? Dalam Sumarno, T.D.Soedjana, dan K.Suradisastra (Eds.). Membumikan IPTEK Pertanian. Seri 2.

IAARD Press: Bogor.

Copyright (c) 2016 JURNAL PANGAN

Refbacks

  • There are currently no refbacks.