Akselerasi Implementasi Hasil Penelitian dan Pengembangan untuk Swasembada Kedelai (Acceleration of Implementation of Research and Development Results for Soybean Self-Supporting)

Suyanto Pawiroharsono
| Abstract views: 433

Abstract

Program swasembada kedelai telah berlangsung lebih dari dua dekade, namun sampai dengan tahun 2014, belum dapat diwujudkan. Berbagai permasalahan mendasar belum dapat diselesaikan, sehingga produksi kedelai justru cenderung menurun dan impor terus meningkat. Penelitian dan pengembangan kedelai sudah banyak dilakukan dan telah menghasilkan teknologi dan produk teknologi yang berpotensi untuk mendukung peningkatan produksi kedelai. Teknologi dan produk teknologi yang dimaksud utamanya adalah benih unggul dan pupuk hayati. Sejumlah benih unggul (sekitar 25 varietas) berpotensi untuk produksi kedelai dengan produktivitas lebih dari 2,5 ton per hektar, dan mempunyai sifat toleran terhadap berbagai cekaman di lahan sub-optimal dan akibat perubahan iklim. Demikian pula berbagai jenis pupuk hayati dan pupuk organik yang secara khusus diperuntukkan untuk peningkatan produksi kedelai di berbagai jenis lahan sub-optimal. Namun kenyataan di lapangan teknologi dan produk teknologi tersebut baru sedikit yang dapat diimplementasikan di tingkat petani dan digunakan untuk produksi komersial. Oleh karena itu, diperlukan akselerasi implementasi hasil litbang melalui media intermediasi yang dapat
memfasilitasi terciptanya jalinan komunikasi, kerjasama antar pihak-pihak terkait, yaitu peneliti, petani, mitra usaha dan pemerintah untuk bersinergi dalam upaya peningkatan produksi kedelai dan swasemda kedelai. Pola budidaya kedelai ke depan perlu diarahkan pada pola budidaya yang ekonomis dan maju yang antara lain menerapkan model “estate crop” di lahan sub-optimal yang didukung dengan mekanisasi yang memadai.

Soybean self-supporting programs have been carried out for more than two decades, however, they were just realized in 2014. A number of basic constraints (such as functional shift of soybean field, and availability of superiority of soybean seeds) have not been overcome, so that the soybean production tends to decline and the soybean import tends to increase. A lot of research and development programs have been done and have resulted in potential technologies and technological products, which are potencially increasing soybean productivity. The technologies and technological products are mainly superior soybean seeds and biofertilizers. A number of superior soybean seeds (about 25 varieties) are potential to produce more than 2.5 ton per hectar, and are tolerant vis a vis to many types of stresses in sub-optimal land and climate changes. Several biofertilizers and organic ferlilizers are also specially used for soybean plant productivity in sub-optimal land. In fact, the technologies and technological product are still limited to be implemented by soybean farmers and to be used in commercial production. Consequently, the implementation of research and development needs to be accelerated by intermediation which could facilitate networking, communication and collaboration among stakeholders (researchers, farmers, enterpreneurs and government) for sinergizing in increasing soybean productivity and soybean selfsupporting. Further, the soybean farming should be done to economic farming model in form of “estate crop” in sub-optimal land and supported by appropriate mechanization.

Keywords

research and development; superior variety; biofertilizer; soybean; self-supporting

References

Adie, MM, 2013. Vatietas Unggul Kedelai: di Lahan Menguntungkan di Meja Menyehatkan. Talk show Dewan Riset Nasional “Prospek Bisnis

Hasil Riset & Inovasi Bidang Pertanian dan Bioteknologi, Jakarta, 29 Oktober 2013.

Agustinus, M. 2012. Produksi Kedelai di Bawah Target, ini Alasan Menteri Pertanian. Sindonews. com.

Astuti, M. 2012. Peran Industri dalam Pengembangan Kedelai Lokal untuk Mewujudkan Swasembada Kedelai 2014. Diskusi Ketahanan Pangan, Kerjasama BPPT dan MAPIPTEK, Jakarta, 7 Agustus 2012.

Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian. 2015. Pengolahan Tanah. Pusat Pelatihan Pertanian, Kementerian Pertanian

Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). 2015. Berita Guntingan: Batan Luncurkan 2 Varietas Baru Kedelai Hitam (dalam Pos Sore 4 Juli 2015).

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2014. Teknologi Produksi Kedelai, Kacang Tanah, Kacang Hijau, Ubi Kayu, dan Ubi Jalar.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.

Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi). 2012. Iletrisoy: Pupuk Hayati Rhizobium Sesuai Untuk Kedelai Pada Lahan Kering Masam. Balitkabi, artikel diunggah

Nopember 2012.

Bioindustri Nusantara, P.T. 2010. Biobus. Izin Edar Deptan :P/636/HAYATI/DEPTAN-PPI/ VII/2010; http://www.ptbionusa.com/p_biobus.php Biro Pusat Statistik (BPS). 2013. Berita Resmi Statistik No. 45/07/ Th. XVI, 1 Juli 2013.

Biro Pusat Statistik (BPS). 2015. Berita Resmi Statistik No. 62/07/ Th. XVIII, 1 Juli 2015.

Bumi Lestari Sejahtera, C.V. 2007. Biokom®. Ijin

Deptan: G144/ HAYATI/ Deptan-PPI/ X/ 2007.

http://www. pupukhayati.co.id [diakses tanggal 27 Januari 2012].

Bumi Lestari Sejahtera, C.V. 2009. Ultramic®. Ijin Deptan: L321/HAYATI/ Deptan-PPI/IV/2009. http://www. pupukhayati.co.id/ [diakses tanggal 27 Januari 2012].

Jaffle, G. 2015. Straight Talk on Genetically Engineered Foods. Center for Science in the Public interest, 2015.

Harry Is, M. 2012. Varietas Kedelai Hasil Litbang BATAN. Diskusi Ketahanan Pangan, Kerjasama BPPT dan MAPIPTEK, Jakarta, 7 Agustus 2012.

Harsono, A. 2010. Efektifitas multiisolat Rhizobium ILETRISOY pada tanaman kedelai di tanah masam Ultisol. Agritek, 19 (2) 2010:1-7

Kementerian Negra Riset dan Teknologi (Kemenristek). 2011. Perumusan Kebijakan Bidang Pangan: Pengembangan Iptek Pangan

Untuk Substitusi Impor. Laporan Kegiatan Program Penelitian dan Pengembangan Iptek, Staf Ahli Bidang Pangan dan Pertanian. Jakarta:

Kementerian Riset dan Teknologi, 2011.

Kementerian Negara Riset dan Teknologi (Kemenristek). 2013. Kebijakan Dukungan Hasil Litbang dan Inovasi Kedelai Untuk Ketahanan

Pangan. Laporan Kajian Kedelai – KNRT, 2013.

Kementerian Pertanian (Kementan). 2012. Pedoman Teknis Pengelolaan Produksi Tanaman Kedelai.

Kementan, 2012. Kementerian Pertanian (Kementan). 2015. Rencana

Strategis Kementerian Pertanian 2015 – 2019. Peraturan Menteri Pertanian RI, No. 19/Permentan/HK.140/4/2015.

Lubis, K. 2005. Pemuliaan Tanaman dan Biologi Molekuler. Materi Pendidikan Program Studi Pemuliaan Tanaman. Medan: Fakultas

Pertanian, Universitas Sumatera Utara.

Makoni, N., Mohamed-Katerere, J. And Chenie, M. 2003. Geneticall Modified Crops. Africa Environment Outlook 2, Chapter 9. CBD and

UNEP 2003.

Pawiroharsono, S. 2012. Peran Bioteknologi untuk Peningkatan Produksi Kedelai di Lahan Marginal. Widyariset, Vol 15, No 3, Desember

Pawiroharsono, S. 2013. Bioteknologi untuk Ketahanan Pangan Kedelai: Aspek Produksi dan Konsumsi. Peningkatan Produksi Pangan

di Lahan Marginal. Jurnal Pangan Vol. 22, No.3, Nopember 2013.

Tohir, W. 2012. Swasembada Kedelai Tahun 2014, Mungkinkah? Diskusi Ketahanan Pangan. Kerjasama BPPT dan MAPIPTEK, Jakarta, 7

Agustus’12.

Copyright (c) 2016 JURNAL PANGAN

Refbacks

  • There are currently no refbacks.